Bro-sis 😆

Meskipun tiap hari pasti ngejailin gw, ngegodain gw, bikin gw kesel, bikin gw cemberut, bikin gw ngambek, dan bikin gw teriak… tapi tetep aja ada perasaan kehilangan tiap gw inget bentar lagi dia bakal pindahan rumah. Bakal sepi kayaknya.
Ah ya… masih inget ketika gw ceritanya lagi jadi backpacker sama 4 temen kuliah cewe gw ke Jogja mei 2015 kemarin. Dibanding nyokap, dia yg paling bawel.
“Yul, jangan lupa solat”.
“Yul, jangan lupa makan”.
“Yul, lu punya maag. Kalo waktunya makan ya makan. Jangan di entar2.”
“Yul, ati2”.
“Yul, lagi apa?”
“Yul, lagi dimana?”

Yal yul yal yul mulu. Ish. Gw cuma read aja deh tuh BBM. Bawel bgt sih 😆😂😄.

Begitu balik lg ke rumah, gw protes, “A, bawel amat sih, lu. Ibu aja nyantai. Kasih kepercayaan kek ke gw. Gw kan bukan anak kecil lagi.”
Dia jawab, “tetep aja lu anak kecil di sini. Gw kan sekarang yg gantiin Bapak di rumah ini.”
(duh).. iya. Gw baru nyadar.
“Ciee.. yang khawatir sama gw. Perhatian niyeeee. Makasih ya, cui. Jadi seneng gw. Ternyata lu sayang sama adeknya”. Sambil cengar cengir gw godain dia.
“Auk ah.”
“Ciee… Gengsi nih yee. Jujur aja, A.”
“Diem, lu!”.
Ngakak gw 😂😂😂

diiyyuull

Iklan

Area Rasaku, Jangan Kau Ikut Campur

Aku mengagumimu. Entah besok, lusa, dan seterusnya.
Maksudku, entah apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Apakah aku akan tetap mengagumimu atau berubah menjadi rasa cinta.
Atau mungkin rasa kagum itu akan hilang, lenyap, menguap, dan pergi jauh tersapu angin?
Entah. Namun rasanya tidak mungkin.

Aku mengagumimu dengan alasan. Kelak aku akan mencintaimu tanpa alasan.
Aku tak mengharapkanmu untuk balas mengagumiku. Aku tak memaksa.
Aku dengan perasaanku itu adalah urusanku.
Aku dengan rinduku padamu, itu juga area perasaan pribadiku.
Kau jangan ikut campur.

Kau boleh bangga karena aku mengagumimu. Aku merindukanmu. Mungkin kelak aku akan mencintaimu.
Sebab kau dikagumi, dirindui, juga akan dicintai oleh seorang perempuan yang sangat jarang mengagumi, merindui, dan akan mencintai seorang pria dengan mudah.

Janganlah kau menyuruhku untuk berhenti mengagumimu.
Janganlah kau paksa aku untuk menghentikan rasa ini.
Janganlah kau berpikir seperti ini walau hanya satu detik.

Aku tak menyuruhmu untuk membalas rasa ini.
Sebab aku sadar, aku memiliki rasa ini tanpa disuruh juga tanpa dipaksa.
Muncul begitu saja.
Aku ingin kalaupun kau membalas rasa ini, itu bukan karena aku yang meminta.
Tapi karena fitrah yang menuntunmu. Muncul begitu saja.

(Aku mencintaimu itu urusanku, bagaimana dengan perasaanmu kepadaku itu urusanmu, aku tak peduli – Pidi Baiq)

diiyyuull

Senandung Harapan.. (bapak…)

Well, baru saja kami mengadakan pengajian 2 tahun meninggalnya Bapak. Sebenarnya, tepat 2 tahunnya adalah esok, tetapi kami mengadakan hari ini karena mencari waktu yang tepat. Kami mempersiapkan ini itu, membereskan sana sini, menyediakan segala yang diperlukan. Tidak berlebihan, tetapi cukup.

Sebelum pengajian dimulai.
aku sama aa (kakak ketigaku) masih gila-gilaan bareng juga bercanda sama keponakan (anak dari kakak keduaku).

Tiba pengajian.
Suasana udah mulai nggak enak. Ibu dan kakak keduaku udah mulai sesenggrukan.

Pembacaan yaasiin.
Giliran aku yang nangis. Deras. Kerudungku basah oleh air mata. Keponakanku yang berusia 7 tahun itu melihatku dengan iba.
Rencana awalku, aku nggak ingin nangis. Kenyataannya, aku tidak dapat melaksanakan rencanaku dengan baik.
Apa yang membuatku sedih? Hanya 1: Adakah lelaki lain yang akan menyayangiku setulus Bapak? Adakah lelaki lain yang akan memperjuangkanku setangguh Bapak? Adakah lelaki lain yang akan menenangkanku juga menyemangatiku saat aku sedih seperti yang dilakukan Bapak?
Ah… Pak. Aku enggak tau, apakah aku akan mendapatkan lelaki sehebat engkau? Atau, minimal mendekati engkau. Pak, kadang aku sebal menjadi anak bungsu. Sebab apa? Sebab waktuku bertemu engkau lebih sedikit dibanding dengan ketiga kakakku.

Pengajian selesai.
Berakhir juga tangisanku. Kepergianmu bukan untuk ditangisi tapi untuk dikenang. Aku menangis bukan karena kepergianmu, tapi karena merasa ada yang kurang.

Ketika Bapak meninggal, aku sadar aku ada pada taraf depresi ringan. Aku curhat kepada salah seorang penulis kebanggaanku, Pidi Baiq. Beliau menasihatiku, “Jika Allah saja percaya kepadamu, lalu kenapa kamu tidak percaya kepada dirimu sendiri?”.  Beliau menyadarkanku bahwa aku mampu menangani segala kondisi kehidupanku.
“Selama ayahmu ada di dalam hatimu, dia tidak pergi kemana-mana. Dia akan selalu hidup.” Ya, dia benar. Bapakku akan selalu hidup dengan semua kenangan yang ku punya.

Cimahi, 22 November 2015.

diiyyuull

Rindu Dilan

Dulu aku menyayanginya dan kini juga
Dulu aku mengaguminya dan kini masih
Dulu aku merasa rindu dan kini sangat
Dulu aku merasa bangga dan kini iya

Kini aku mencarinya
Kini aku menanyakan kabarnya
Kini aku kehilangannya

Dulu aku mengekangmu dan kau tak suka
Dulu aku mengancammu dan kau terusik
Dulu aku masih remaja dan kau memahaminya
Dulu aku lakukan karena amat menyayangimu dan kau tau

Kau, Dilan
Aku, Milea
Terima kasih untuk telah mengguratkan seni rasa ini.

(Tulisan ini saya buat karena terinspirasi dari kisah Dilan dan Milea dari buku yang berjudul “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990” dan “Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991” karya Pidi Baiq Sang Imigran dari Sorga)

Tulisan Sahabat

Tulisan Sahabat. Itulah judul yang tertera di blog seorang sahabat SMA ku, di http://tarianjarilentik.blogspot.com. Dia menuliskan kembali puisi yang pernah ku tulis di buku bindernya. Kalau saja aku tidak membuka dan membaca tulisannya itu, mungkin sampai sekarang aku sudah lupa kalau pernah menuliskannya. Aku menuliskannya saat kelas 3 SMA,  beberapa bulan sebelum kelulusan kami.

Untuk kembali me-recall ingatan, akan ku tulis ulang pada postinganku kali ini:



DOA PADA BINTANG

Tiap malam ku lihat indahnya Bintang
Ku berharap padanya agar jangan pernah meredup
Biarkan cahyanya terus temaniku
Merasuk ke jiwa yang hampa
     Bintang yang terang …
     Ingin ku mohon padamu
     Berikan sinarmu yang terindah
     Tuk perindah harinya
     Dan sampaikan rindu ini untuknya
     Karna sungguh aku sayang padanya…
     Walaupun dia takkan pernah menyadarinya
Bintang…
Lewat cahyamu ku lepaskan rinduku untuknya
Dan lindungilah dia dari gelapnya malam

(130107, 10:43 WIB)

KEBISUAN

Kadang kata tak berarti
Hanya diam yang terucap meragu

Kebisuan melukiskan kejujuran
Sebagai isyarat hati tak terucap
     Andai kau tau…
     Keterdiamanku ini tak berarti hati ini meragu
     hanya saja ku tak mampu mengucapkannya
     “AKU SAYANG KAMU”….
       (130107, 10:49)

UNTITLED

Ku tau ku hanya seorang wanita biasa
Sanggupkah ku terus bertahan? ku tak tau
Namun yang ku tau hanyalah
Sanggupkah ku ingin agar kau tau apa yang ku rasakan
Apakah mungkin karena ku terlalu sayang

yang tak pantas milikimu
namun izinkan hati ini tuk bisa
mencintaimu walau perih terasa
tanpa balasmu
Jika saat ini hanya ketulusan cinta dari hatiku
Hanya untukmu
Saat ini dalam hatiku
Namun ku tak mampu tuk ungkapkan rasa ini
kepadamu
kepadamu?
Mungkin…

(Jumat, 130407, 10:00) -yul-

Welcome Back

Sudah setahun lebih gue nggak nengok blog ini. *bersihin sarang laba-laba*

Setahun ini ngapain aja sih gue? Dimana? Sama siapa? Semalam berbuat apa?. Umm.. oke-oke. Itu lirik lagunya Kangen Band *abaikan*

So, ceritanya gue lagi sok sibuk kerja aja. Sempat nyicipin kerja di perusahaan dengan posisi yang lumayan enak, tapi gue memutuskan berhenti karena nggak sreg aja sama hati gue. Lalu pindahlah gue ke sebuah sekolah yang isinya anak-anak usia dini. Disini gue mendapat tugas untuk mengajari mereka. Gue betah di tempat ini. Ketika gue nggak hadir, besoknya anak-anak nyariin gue. Saat bermain di lingkaran, beberapa anak memilih untuk ada di samping gue. Waktu gue datang, anak-anak berebutan buat mencium tangan gue. Dan, waktu mereka pengen boker, mereka juga maunya sama gue. *palm face*

Gue belum menikah apalagi punya anak, tapi gue suka anak kecil. Hal ini bermula ketika kakak gue ngelahirin anaknya, itulah pertama kalinya gue punya ponakan. Jadi tante, tiap hari ngeliat anak kecil, sambil mempelajari tumbuh kembang sesuai umurnya dari buku juga yang diajarkan dosen saat kuliah. Komplit sudah, gue ngerasa sedang belajar gimana jadi seorang ibu. Kini ponakan gue udah kelas 1 SD.

Punya keponakan, gue cuma tahu apa aja yang boleh dan ngga dilakukan, makanan apa yang boleh dan dilarang dia konsumsi, mainan, tontonan, dan perlakuan apa yang harus kita berikan juga contohkan. Gue sebagai tante cuma bisa ikut campur sedikit saja, karena selebihnya adalah hak orang tuanya. Tetapi, menjadi seorang pendidik (gue lebih suka menyebut pendidik daripada pengajar), bukan saja mengenalkan angka & huruf, mengajarkan cara membaca juga menulis, tetapi lebih dari itu. Gue memiliki beban moral untuk mendidik mereka sesuai dengan usianya. Anak meniru segala ucapan, dan tindakan yang orang dewasa lakukan. Gue nggak mau mereka tercemar dengan polusi yang dihasilkan oleh orang dewasa. Contohnya? Ketika ada anak yang menyanyikan lagu dari suatu band, gue bilang bahwa itu lagu yang nggak bagus. Ketika mereka cerita semalam habis menonton serial Ganteng-Ganteng Serigala, gue bilang untuk jangan menontonnya lagi dengan berusaha memberikan penjelasan sederhana yang bisa mereka terima.Disitu gue jengkel dengan orang tua nya, kenapa anak-anak dibiarkan melihat acara yang tidak seharusnya mereka tonton.

Ada kebanggaan ketika seorang ibu meminta kepada gue untuk memberi pengertian kepada anaknya untuk mau dibersihkan telinganya. Sempat bengong juga tuh gue, maksudnya apa? Lalu si ibu itu bilang, kalau anaknya jadi mau dipotong kukunya karena gue cerita kalau kuku panjang dan kotor maka anak-anak bakal sakit perut karena banyak telur cacing juga kotoran. Alhamdulillah omongan gue diperhatikan juga. Hehehe.

Gue nggak tahu bakal sampai kapan gue akan terus bekerja di tempat ini. Gue masih ingin berkembang dan menambah ilmu lagi. Ilmu sebagai bekal untuk diri gue saat membantu orang lain dan juga bisa gue terapkan ketika gue menjadi seorang istri dan ibu bagi keluarga gue kelak. Gue ingin terus dan terus belajar menjadi lebih baik lagi. Bukankah hidup ini adalah sebuah proses?